• Produk Kami
    • Enfagrow A+ MFGM Pro
    • Enfagrow A+ Gentle Care
    • Enfagrow Essential
  • Artikel
    • Kehamilan & Menyusui
    • Tumbuh Kembang Anak
    • Pencernaan
  • Event dan Promosi
  1. Home
  2. Pencernaan
  3. Catat Moms! Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Kembung

Catat Moms! Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Kembung

Catat Moms! Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Kembung

Perut kembung pada bayi 0-12 bulan adalah kondisi umum akibat sistem pencernaan yang belum matang. Kenali penyebab, gejala, cara mengatasi, serta kapan perlu ke dokter agar Si Kecil tetap nyaman dan tidur nyenyak.

Perut kembung atau gas pain termasuk kondisi yang cukup sering dialami bayi di usia 0-12 bulan, jadi Moms tidak perlu merasa khawatir berlebihan saat Si Kecil mengalaminya. Pada fase ini, sistem pencernaan bayi memang masih dalam tahap perkembangan dan baru akan sempurna saat Si Kecil berusia 2 tahun. Selain itu, produksi enzim, koordinasi gerakan usus, serta kemampuan mengeluarkan gas belum bekerja seefisien orang dewasa, sehingga gas lebih mudah terbentuk dan terperangkap, terutama setelah minum susu atau saat malam hari.

Walaupun tergolong normal, rasa tidak nyaman akibat penumpukan gas dapat membuat bayi lebih rewel dan sulit untuk tidur. Karena itu, penting bagi Moms memahami apa yang terjadi pada tubuh Si Kecil, agar bisa menenangkannya dengan cara yang tepat sekaligus mengetahui kapan kondisi ini memerlukan evaluasi dokter. 

Key Summaries: 

  • Perut kembung pada bayi usia 0-12 bulan adalah kondisi yang umum terjadi karena sistem pencernaan masih berkembang.

  • Gas bisa terbentuk akibat udara yang tertelan saat menyusu, terlalu banyak menangis, atau kemampuan perut bayi yang masih kurang untuk mencerna susu secara optimal.

  • Gejala kembung biasanya ditandai perut terasa keras, bayi rewel, sering menarik kaki ke arah perut, dan sulit tidur.

  • Posisi tidur membuat gas lebih sulit keluar, sehingga malam hari sering menjadi waktu bayi lebih gelisah.

  • Stimulasi gerakan sederhana dan pemilihan asupan yang tepat dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan, namun konsultasi dokter diperlukan bila muncul gejala berat.

Penyebab Perut Bayi Kembung di Malam Hari

Perut bayi yang tampak lebih kembung di malam hari umumnya dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari aktivitas menyusu sepanjang hari, sistem pencernaan yang masih berkembang, hingga posisi tidur yang membuat gas lebih sulit keluar. Selain itu, pada malam hari, stimulasi lingkungan berkurang sehingga bayi menjadi lebih sensitif terhadap rasa tidak nyaman. Akibatnya, sensasi penuh di perut terasa lebih dominan.

1.Sistem Pencernaan yang Belum Berkembang

Organ pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan hingga usia 2 tahun. Ini juga termasuk, itu enzim pencernaan si Kecil yang masih belum optimal jumlahnya, sehingga pencernaan beberapa nutrisi belum seoptimal orang dewasa. Apabila makanan atau susu masih sulit tercerna, proses fermentasi di saluran cerna dapat menghasilkan lebih banyak gas yang memicu rasa tidak nyaman dan membuat bayi menjadi rewel, terutama saat sore sampai malam hari.

Menurut penelitian dari jurnal Nature Portfolio, kolik atau rewel sering dikaitkan dengan sistem pencernaan yang belum matang. Ini juga karena bayi sudah seharian menerima banyak rangsangan, membuat bayi mudah merasa lelah.

2.Udara yang Tertelan Saat Menyusu

Teknik pelekatan yang kurang tepat, posisi menyusu yang belum ideal, atau kondisi dot yang kurang sesuai dapat membuat bayi menelan udara berlebih. Hal ini lebih sering terjadi saat Si Kecil menyusu dalam kondisi sangat lapar dan minum dengan cepat.

3.Terlalu Banyak Menangis

Saat menangis, bayi juga cenderung menelan udara dalam jumlah lebih banyak. Udara ini kemudian masuk ke saluran cerna dan menumpuk, sehingga memicu rasa kembung.

4.Terlalu Banyak Menangis

Posisi berbaring membuat pergerakan gas di dalam usus menjadi lebih lambat. Akibatnya, tekanan di perut terasa lebih kuat dan bayi menjadi lebih gelisah saat malam hari.

Ciri-ciri Bayi Kembung

Perut kembung pada bayi biasanya ditandai dengan beberapa gejala yang cukup khas, seperti: 

  • Perut terasa lebih keras atau tampak membesar.

  • Bayi sering menarik atau menekuk kaki ke arah perut.

  • Lebih sering buang angin.

  • Menangis atau rewel tanpa sebab yang jelas, terutama setelah menyusu.

  • Wajah tampak memerah saat mencoba mengejan.

Jika Moms melihat tanda-tanda ini, kemungkinan besar Si Kecil sedang merasa tidak nyaman akibat gas yang terperangkap di dalam perutnya.

Mengapa Perut Kembung Membuat Bayi Tak Bisa Tidur?

Moms, perut kembung dapat membuat Si Kecil merasa tidak nyaman saat berbaring. Pasalnya, gas yang terperangkap dalam perut bisa menekan bagian dalam usus Si Kecil. Posisi tidur yang datar juga membuat gas bergerak lebih lambat dan sulit keluar. Akibatnya, bayi bisa menjadi lebih gelisah, mudah terbangun, atau sulit untuk tidur.

Hal ini didukung oleh penelitian dari Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition yang menyatakan bahwa rasa tidak nyaman pada perut berkaitan dengan Si Kecil yang sulit tidur. Tubuh Si Kecil akan lebih mudah terbangun meskipun ia sedang mengantuk. Ini membuat tidurnya jadi sering terputus-putus.

Jika dibiarkan, kondisi ini tentu akan membuat kualitas tidur malam Si Kecil berkurang. Padahal, mendapat tidur yang cukup itu sangat penting untuk pertumbuhan dan kemampuan belajar Si Kecil. Beberapa penelitian seperti  American Academy of Pediatrics dan jurnal Child Development, menunjukkan bahwa tidur yang sering terputus dapat berdampak pada kemampuan fokus dan konsentrasi Si Kecil di masa depan. 

Namun, Moms tidak perlu khawatir berlebihan. Ketika gas berhasil keluar, tekanan di dalam perut akan berkurang sehingga rasa tidak nyaman mereda. Dalam kondisi ini, bayi umumnya akan tampak lebih tenang dan dapat kembali tidur dengan lebih nyenyak. Itulah sebabnya, membantu Si Kecil mengeluarkan gas sebelum tidur sering kali membuat kualitas tidurnya menjadi lebih baik.

Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Beberapa langkah sederhana dan aman dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat perut kembung. Berikut yang bisa Moms lakukan:

1. Leg Exercises

Gerakan mengayuh kaki bayi secara perlahan seperti bersepeda dapat membantu merangsang pergerakan usus sehingga gas lebih mudah keluar.

2. Knee Pumping

Tekuk kedua lutut bayi ke arah perut secara lembut dan berulang. Tekanan ringan ini dapat membantu mendorong gas keluar dari saluran cerna.

3. Frog Hold

Menggendong bayi dengan posisi tengkurap di lengan sambil menopang perutnya dapat memberikan tekanan lembut yang membantu meredakan penumpukan gas.

4. Criss-Crossing

Menggerakkan kaki bayi secara menyilang ke arah perut secara perlahan dapat membantu merangsang sistem pencernaan dan memudahkan gas keluar.

5. Memilih Susu Formula dengan PHP yang Lebih Mudah Dicerna

Pada usia 0-24 bulan, sistem pencernaan Si Kecil masih dalam tahap berkembang. Produksi enzim untuk memecah protein belum seefektif tubuh orang dewasa serta pergerakan usus mereka masih belum teratur. Ini mengakibatkan protein jadi tidak tercerna dengan sempurna dan munculnya gas berlebih di usus.

Itulah mengapa pemilihan susu formula dengan protein yang lebih mudah dicerna itu penting. Susu yang diformulasikan dengan Partially Hydrolyzed Protein (PHP) mengandung protein yang sudah dipecah menjadi ukuran lebih kecil. Membuat sistem pencernaan Si Kecil lebih mudah memproses protein yang masuk.

Kenyamanan pencernaan ini tentu sangat penting dan memengaruhi kualitas tidur bayi. Ketika perut terasa nyaman Si Kecil akan tidur lebih nyenyak. Mendapatkan tidur yang lebih berkualitas dapat membantu tumbuh kembang Si Kecil secara optimal, dan Moms dapat merasa lebih tenang.

Kapan Si Kecil Harus ke Dokter?

Moms, jika Si Kecil mengalami perut kembung disertai muntah berulang, diare, demam, atau berat badan yang tidak naik, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter, ya! Periksakan juga bila Si Kecil tampak sangat lemas atau menangis terus-menerus dan sulit ditenangkan, karena kondisi tersebut bisa mengindikasikan gangguan pencernaan yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.

Kesimpulan

Perut kembung pada bayi usia 0-12 bulan merupakan kondisi yang umum terjadi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti sistem pencernaan Si Kecil yang masih berkembang, udara yang tertelan saat menyusu, hingga posisi tidur berbaring yang membuat gas bergerak lebih lambat.

Untuk mengetahui bayi mengalami perut kembung atau tidak, beberapa ciri yang dapat dikenali adalah perut yang terasa keras, bayi lebih rewel, hingga sulit tidur di malam hari.

Dengan stimulasi gerakan sederhana, memastikan asupan yang sesuai dengan kebutuhan pencernaan Si Kecil, hingga memilih asupan susu formula dengan PHP yang lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan Si Kecil, Moms dapat membantu meredakan ketidaknyamanan tersebut. Namun, jika gejalanya tampak berat atau tidak membaik, segera konsultasi dengan dokter adalah langkah paling aman.

FAQ

1. Apakah perut kembung pada bayi berbahaya? 

Tidak selalu. Sebagian besar kasus kembung pada bayi bersifat ringan dan akan membaik setelah gas keluar.

2. Berapa lama biasanya bayi mengalami kembung? 

Kembung ringan biasanya berlangsung beberapa jam dan membaik setelah bayi buang angin atau BAB.

3. Apakah bayi ASI bisa mengalami kembung? 

Bisa, Moms. Bayi ASI tetap dapat mengalami kembung, terutama jika menelan udara saat menyusu. 

4. Apakah pijat bayi aman untuk mengatasi kembung? 

Ya, selama dilakukan dengan teknik lembut dan benar. Pijat ringan di area perut dapat membantu merangsang pergerakan usus.

5. Kapan kembung perlu dicurigai sebagai gangguan serius? 

Jika disertai muntah hebat, demam, diare, perut sangat keras, atau bayi tampak sangat lemas, segera periksakan ke dokter. 

6. Apa itu PHP pada susu formula?

Susu yang berbahan dasar susu sapi dan terbuat dari protein whey yang telah mengalami hidrolisis parsial, sehingga lebih kecil ukurannya dan lebih mudah dicerna.

Referensi: 

  • Gastroesophageal reflux causing sleep interruptions in infants, https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1097/MPG.0b013e31827f02f2 

  • Short nighttime sleep-duration and hyperactivity trajectories in early childhood https://publications.aap.org/pediatrics/article-abstract/124/5/e985/72125/Short-Nighttime-Sleep-Duration-and-Hyperactivity 

  • Sleep and cognition in preschool years: specific links to executive functioning https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23432661/ 

  • Infant colic: mechanisms and management https://www.nature.com/articles/s41575-018-0008-7

  • Focus on infantile colic https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1651-2227.2007.00428.x 

  • Terms & Conditions
  • Cookie Policy
  • Privacy Policy
© 2025 Enfa Indonesia • Copyright
  • tiktok